SEJARAH BANTEN
Rabu, 12 Oktober 2016
Sabtu, 24 September 2016
falsafah agama
Filsafat Agama
|
Istilah filsafat dan agama
mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat
dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu.
Oleh sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait
dengan pengalaman. Filsafat membahas sesuatu dalam rangka
melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama
tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang
tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya.
Perbedaan tersebut menimbulkan konflik
berkepan-jangan antara orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang
yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama mempunyai fungsi yang sama
kuat untuk kemajuan, keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Untuk
menelusuri seluk-beluk filsafat dan agama secara mendalam perlu
diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama dan filsafat
itu.
A. Pengertian Filsafat
Salah satu kebiasaan dunia pene-litian dan keilmuan, berfungsi bahwa
penemuan konsep tentang sesuatu ber-awal dari pengetahuan tentang
satuan-satuan. Setiap satuan yang ditemukan itu dipilah-pilah, dikelompokkan
ber-dasarkan persamaan, perbedaan, ciri-ciri ter-tentu dan sebagainya.
Berdasarkan penemuan yang telah diverivi-kasi itulah orang merumuskan
definisi tentang sesuatu itu.
Dalam sejarah perkembangan pemikirian manusia, filsafat juga bukan
diawali dari definisi, tetapi diawali dengan kegiatan berfikir tentang segala
sesuatu secara mendalam.[1] Orang yang berfikir tentang segala
sesuatu itu tidak semuanya merumuskan definisi dari sesuatu yang dia teliti,
termasuk juga pengkajian tentang filsafat.
Jadi ada benarnya Muhammad Hatta dan Langeveld mengatakan "lebih
baik pengertian filsafat itu tidak dibica-rakan lebih dahulu. Jika orang
telah banyak membaca filsafat ia akan mengerti sendiri apa filsafat itu.[2] Namun demikian definisi filsafat
bukan berarti tidak diperlukan. Bagi orang yang belajar filsafat definisi itu
juga diperlu-kan, terutama untuk memahami pemikiran orang lain.
Dengan demikian, timbul pertanyaan siapa yang pertama sekali memakai
istilah filsafat dan siapa yang merumuskan definisinya. Yang merumuskan
definisinya adalah orang yang datang belakangan. Penggunaan kata filsafat
pertama sekali adalah Pytagoras sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada
masa itu yang menama-kan dirinya orang bijaksana, orang arif atau orang yang
ahli ilmu pengetahuan. Dalam membantah pendapat orang-orang tersebut
Pytagoras mengatakan pengetahuan yang lengkap tidak akan tercapai oleh
manusia.[3]
Semenjak semula telah terjadi perbedaan pendapat tentang asal kata
filsafat. Ahmad Tafsir umpamanya me-ngatakan filsafat adalah gabungan dari
kata philein dan sophia. Menurut Harun Nasution
kedua kata tersebut setelah digabungkan menjadi philosophia
dan diterjemah-kan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti cinta hikmah atau
kebijaksanaan.
Orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam
bahasa mereka dan menyesuaikannya dengan su-sunan kata bahasa Arab, yaitu falsafa
dengan pola fa`lala. Dengan demikian kata benda dari falsafa itu
adalah falsafah atau filsaf.[4]
Dalam al-Quran kata filsafat tidak ada, yang ada hanya adalah kata
hikmah. Pada umumnya orang mema-hami antara hikmah dan kebijaksanaan
itu sama, pada hal sesungguhnya maksudnya berbeda. Harun Hadiwijono
mengartikan kata philosophia dengan mencintai kebijaksa-naan,[5] sedangkan Harun Nasution
mengartikan dengan hikmah.[6] Kebijaksanaan biasanya diartikan
dengan peng-ambilan keputusan berdasarkan suatu pertimbangan terten-tu yang
kadang-kadang berbeda dengan peraturan yang telah ditentukan. Adapun hikmah
sebenarnya diungkapkan pada sesuatu yang agung atau suatu peristiwa yang
dahsyat atau berat.[7] Namun dalam konteks filsafat kata philosophia
itu merupakan terjemahan dari love of wisdom.[8]
Dari pengertian kebahasaan itu dapat dipahami bah-wa filsafat berarti
cinta kepada kebijaksanaan. Tetapi pengertian itu belum memberikan pemahaman
yang cu-kup, karena maksudnya belum dipahami dengan baik. Pemahaman yang
mendasar tentang filsafat diperoleh melalui pengertian. Karena berbagai
pandangan dalam melihat sesuatu menyebabkan pandangan pemikir tentang
filsafat juga berbeda. Oleh sebab itu, banyak orang mem-berikan pengertian
yang berbeda pula tentang filsafat.
Herodotus mengatakan filsafat adalah perasaan cinta kepada ilmu
kebijaksanaan dengan memperoleh keahalian tentang kebijaksanaan itu.[9] Plato mengatakan filsafat ada-lah
kegemaran dan kemauan untuk mendapatkan penge-tahuan yang luhur. Aristoteles
(384-322 sm) mengatakan filsafat adalah ilmu tentang kebenaran.[10] Cicero (106-3 sm.) mengatakan filsafat
adalah pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.[11]
Thomas Hobes (1588-1679 M) salah seorang filosof Inggris mengemukakan
filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan hubungan hasil dan sebab,
atau sebab dan hasilnya dan oleh karena itu terjadi perubahan.[12] R. Berling mengatakan filsafat
adalah pemikiran-pemikiran yang bebas diilhami oleh rasio mengenai segala
sesuatu yang timbul dari pengalaman-pengalaman.[13]
Alfred Ayer mengatakan filsafat adalah pencarian akan jawaban atas
sejumlah pertanyaan yang sudah semen-jak zaman Yunani dalam hal-hal pokok.
Pertanyaan-perta-nyaan mengenai apa yang dapat diketahui dan bagaimana
mengetahuinya, hal-hal apa yang ada dan bagaimana hu-bungannya satu sama
lain. Selanjutnya mempermasalah-kan apa-apa yang dapat diterima, mencari
ukuran-ukuran dan menguji nilai-nilainya apakah asumsi dari pemikiran itu dan
selanjutnya memeriksa apakah hal itu berlaku.[14]
Immanuel Kant (1724-1804 M) salah seorang filosof Jerman mengatakan
filsafat adalah pengetahuan yang men-jadi pokok pangkal pengetahuan yang
tercakup di dalam-nya empat persoalan : yaitu Apa yang dapat diketahui,
Jawabnya : Metafisika. Apa yang seharusnya diketahui ? Jawabnya : etika.
Sampai di mana harapan kita ? Jawabnya :Agama. Apa manusia itu ? Jawabnya
Antropologi.[15] Jujun S Suriasumantri
mengatakan bahwa filsafat menelaah segala persoalan yang mungkin dapat
dipikirkan manu-sia.[16] Sesuai dengan fungsinya sebagai
pionir, filsafat mempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab suatu per-soalan,
filsafat mulai merambah pertanyaan lain.[17]
Ir. Poedjawijatna mengatakan filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari
sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.[18] Titus mem-berikan difinisi
bahwa filsafat itu adalah sikap kritis, terbuka, toleran, mau melihat
persoalan tanpa prasangka.[19] Selanjutnya dia mengatakan bahwa
dalam mendefinisikan filsafat sekurang-kurangnya bertolak dari empat sudut
pandang yang saling melengkapi.
Pertama filsafat adalah suatu sikap terhadap hidup dan alam semesta. Dari
sudut ini dapat dijelaskan bahwa suatu sikap filosofis adalah sikap berfikir
yang melibatkan usaha untuk memikirkan masalah hidup dan alam semesta dari semua
sisi yang meliputi kesiapan menerima hidup dalam alam semesta sebagaimana
adanya dan mencoba melihat dalam keseluruhan hubungan. Sikap filosofik dapat
ditandai misalnya dengan sikap kritis, berfikir terbuka, toleran dan mau
melihat dari sisi lain.
Kedua adalah suatu metode berfikir reflektif dan metode pencarian yang
beralasan. Ini bukalah metode fil-safat yang eksklusif, tetapi merupakan
metode berfikir yang akurat dan sangat berhati-hati terhadap seluruh
pengalaman.
Ketiga filsafat adalah kumpulan masalah. Semenjak dahulu sampai sekarang
banyak masalah yang sangat men-dasar yang masih tetap tidak terpecahkan,
meskipun para filosof telah benyak mencoba memberikan jawabannya. Contohnya
apakah kebenaran itu ? apakah keindahan itu, apakah perebedaan antara benar
dan salah. ?
Keempat filsafat merupakan kumpulan teori atau sistem-sistem pemikiran.
Dalam hal ini filsafat berarti teori-teori filosofis yang beraneka ragam atau
sistem-sistem pemikiran yang telah muncul dalam sejarah yang biasanya
dikaitkan dengan nama-nama filosof ; seperti Sokrates, Plato, Aristoteles,
Agustinus. Mereka sangat ber-pengaruh bagi pemikiran di masa sekarang. Dari
mereka lahir istilah-istilah seperti idealisme, realisme, pragmatis-me dan
sebagainya.[20]
Kattsoff mengemukakan filsafat, ialah ilmu penge-tahuan yang dengan
cahaya kodrati akal budi mencari sebab-sebab yang pertama atau
azas-azas yang tertinggi segala sesuatu. Filsafat dengan kata lain
merupakan ilmu pengeahuan tentang hal-hal pada sebab-sebabnya yang pertama
termasuk dalam ketertiban alam.[21] Selain itu filsafat merupakan
ukuran pertama tentang nilai filsafat itu dan berakhir dengan kesimpulan yang
jika dihubungkan kembali dengan pengalaman hidup sehari-hari, serta
peristiwa-peristiwanya menjadikan pengalaman-pengalam-an serta peristiwa itu
lebih bermakna yang menyebabkan kita lebih berhasil menanganinya.[22]
Selain itu Liang Gie mengemukan metode yang ber-beda dalam
pembahasan ini. Penulis itu meninjau filsafat dan segi pelaku filsafat sendiri.
Menurutnya pelaku filsafat itu terdiri atas beberapa kelompok, antara lain :
Pertama pengejek filsafat, yaitu orang-orang yang mencemoohkan atau
memperolok-olokan filsafat maupun filosof karena ketidaktahuannya.
Kedua peminat filsafat, yaitu seseorang yang sekedar mempunyai arah
hidup, pandangan dunia, ukuran moral atau telah membaca karya filsafat
sehingga tertarik kepada filsafat.
Ketiga penghafal filsafat, pada umumnya mereka ialah
mahasiswa yang kerjanya sehari-hari menghafal buku atau diktat filsafat untuk
menghadapi ujian yang diberikan oleh dosennya.
Keempat sarjana filsafat, yaitu mahasiswa yang lulus di perguruan tinggi
filsafat dengan memperoleh gelar dok-torandus atau lainnya.
Kelima pengajar filsafat, yaitu sarjana yang mem-berikan kuliah dalam
mata kuliah filsafat atau salah satu cabangnya di perguruan tinggi.
Keenam pemikir filsafat, yaitu seorang pemikir da-lam bidang filsafat,
dan itulah yang sebenarnya disebut filosof. Filosof ialah seorang yang
senantiasa memahami persoalan-persoalan filsafat dan terus menerus melakukan
pemikiran terhadap jawaban-jawaban dari persoalan-persoalan itu dari waktu ke
waktu dan diungkapkan dalam bentuk lisan maupun tulisan.[23]
Itulah di antara definisi yang dikemukakan oleh filosof. Perbedaan itu
definisi itu menimbulkan kesan bahwa perbedaan itu disebabkan oleh berbagai
faktor, seperti latar belakang sosial, politik, ekonomi dan
seba-gainya. Jika disadari, perbedaan pendapat itu adalah wajar karena
perkembangan ilmu pengetahuan menimbulkan berbagai spesialisasi ilmu yang
sesungguhnya terpecah dari filsafat pada umumnya dan selanjutnya muncullah
filsafat khsus, seperti filsafat politik, filsafat akhlak, filsafat agama dan
sebagainya.
Dengan demikian diketahui betapa luasnya lapangan filsafat. Tetapi
walaupun telah terjadi berbagai pemikiran dalam filsafat yang berbentuk umum
menjadi berbagai bidang filsafat tertentu, ternyata ciri khas filsafat itu
tidak hilang, yaitu pembahasan bersikap radikal, sistematis, universal dan
bebas. Dengan demikian dalam pembahasan ini semua prinsip itu memang
diperlukan dalam mengkaji berbagai hal tentang agama sehingga hasil itu
disebut filsafat agama.
Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak
dan “gam” yang berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun
dalam kehidupan manusia.[24] Ter-nyata agama memang
mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain bagi orang-orang tertentu, selalu
menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi,
yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan
hubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat.[25] Kata religi berasal dari
bahasa Latin rele-gere yang berarti mengumpulkan, membaca. Agama
me-mang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu
terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi
berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaan agama
memang mem-punyai sifat mengikat bagi manusia.[26] Seorang yang beragama tetap
terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama.
Sidi Gazalba mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata relegere
asal kata relgi mengandung makna berhati-hati hati-hati. Sikap
berhati-hati ini disebabkan dalam religi terdapat norma-norma dan aturan yang
ketat. Dalam religi ini orang Roma mempunyai anggapan bahwa manusia harus
hati-hati terhadap Yang kudus dan Yang suci tetapi juga sekalian tabu.[27] Yang kudus dipercayai
mempunyai sifat baik dan sekaligus mempunyai sifat jahat.
Religi juga merupakan kecenderungan asli rohani manusia yang berhubungan
dengan alam semseta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir
hakikat dari semua itu. Religi mencari makna dan nilai yang berbeda-beda sama
sekali dari segala sesuatu yang dikenal. Karena itulah religi tidak
berhubungan dengan yang kudus. Yang kudus itu belum tentu Tuhan atau
dewa-dewa. Dengan demikian banyak sekali kepercayaan yang biasanya disebut
religi, pada hal sebenarnya belum pantas disebut religi karena hubungan
antara manusia dan yang kudus itu belum jelas. Religi-religi yang bersahaja
dan Budhisma dalam bentuk awalnya misalnya menganggap Yang kudus itu bukan
Tuhan atau dewa-dewa. Dalam religi betapa pun bentuk dan sifatnya selalu ada
penghayatan yang berhu-bungan dengan Yang Kudus.[28]
Manusia mengakui adanya ketergantungan kepada Yang Mutlak atau Yang Kudus
yang dihayati sebagai kontrol bagi manusia. Untuk mendapatkan
pertolongan dari Yang Mutlak itu manusia secara bersama-sama
men-jalankan ajaran tertentu.
Jadi religi adalah hubungan antara manusia dengan Yang Kudus.
Dalam hal ini yang kudus itu terdiri atas ber-bagai kemungkinan, yaitu bisa
berbentuk benda, tenaga, dan bisa pula berbentuk pribadi
manusia.
Selain itu dalam al-Quran terdapat kata din yang
menunjukkan pengertian agama. Kata din dengan akar katanya dal,
ya dan nun diungkapkan dalam dua bentuk yaitu din dan dain.
Al-Quran menyebut kata din ada me-nunjukkan arti agama dan ada
menunjukkan hari kiamat, sedangkan kata dain diartikan dengan utang.
Dalam tiga makna tersebut terdapat dua sisi yang berlainan dalam
tingkatan, martabat atau kedudukan. Yang pertama mempunyai kedudukan, lebih
tinggi, ditakuti dan disegani oleh yang kedua. Dalam agama, Tuhan adalah
pihak pertama yang mempunyai kekuasaan, kekuatan yang lebih tinggi, ditakuti,
juga diharapkan untuk memberikan bantuan dan bagi manusia. Kata din dengan
arti hari kiamat juga milik Tuhan dan manusia tunduk kepada ketentuan
Tuhan. Manusia merasa takut terhadap hari kiamat sebagai milik Tuhan karena
pada waktu itu dijanji-kan azab yang pedih bagi orang yang berdosa. Adapun
orang beriman merasa segan dan juga menaruh harapan mendapat rahmat dan
ampunan Allah pada hari kiamat itu. Kata dain yang berarti utang juga
terdapat pihak pertama sebagai yang berpiutang yang jelas lebih kaya dan yang
kedua sebagai yang berutang, bertaraf rendah, dan merasa segan terhadap yang
berpiutang.[29] Dalam diri orang yang berutang
pada dasarnya terdapat harapan supaya utangnya dimaafkan dengan arti tidak
perlu dibayar, walaupun harapan itu jarang sekali terjadi. Dalam Islam
manusia berutang kepada Tuhan berupa kewajiban melaksanakan ajaran agama.
Dalam bahasa Semit istilah di atas berarti undang-undang atau hukum. Kata
itu juga berarti menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan[30] dan semua itu memang terdapat
dalam agama. Di balik semua aktifitas dalam agama itu terdapat balasan yang
akan diterimanya nanti. Balasan itu diperoleh setelah manusia berada di
akhirat.
Semua ungkapan di atas menunjuk kepada pengerti-an agama secara
etimologi. Namun banyak pula di antara pemikir yang mencoba memberikan
definisi agama. Dengan demikian agama juga diberi definisi oleh berbagai
pemikir dalam bentuk yang berbagai macam. Dengan kata lain agama itu
mempunyai berbagai pengertian. Dengan istilah yang sangat umum ada
orang yang mengatakan bahwa agama adalah peraturan tentang cara hidup di
dunia ini. [31]
Sidi Gazalba memberikan definisi bahwa agama ialah kepercayaan kepada
Yang Kudus, menyatakan diri berhubungan dengan Dia dalam bentuk ritus, kultus
dan permohonan dan membentuk sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.[32] Karena dalam definisi yang
dikemuka-kan di atas terlihat kepercayaan yang diungkapkan dalam agama itu
masih bersifat umum, Gazalba mengemukakan definisi agama Islam, yaitu:
kepercayaan kepada Allah yang direalisasikan dalam bentuk peribadatan,
sehingga membentuk taqwa berdasarkan al-Quran dan Sunnah.[33]
Muhammad Abdul Qadir Ahmad mengatakan agama yang diambil dari pengertian din
al-haq ialah sistem hidup yang diterima dan diredai Allah ialah sistem
yang hanya diciptakan Allah sendiri dan atas dasar itu manusia tunduk dan
patuh kepada-Nya. Sistem hidup itu mencakup berba-gai aspek kehidupan,
termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan yang disyari`atkan Allah
untuk manusia.[34]
Selanjutnya dijelaskan bahwa agama itu dapat dike-lompokkan menjadi dua
bentuk, yaitu agama yang mene-kankan kepada iman dan kepercayaan dan yang ke
dua menekankan kepada aturan tentang cara hidup. Namun demikian kombinasi
antara keduanya akan menjadi defi-nisi agama yang lebih memadai, yaitu sistem
keperca-yaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut, atau cara
hidup lahir dan batin.[35]
Bila dilihat dengan seksama istilah-istilah itu ber-muara kepada satu
fokus yang disebut ikatan. Dalam agama terkandung ikatan-ikatan yang harus
dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap manusia, dan ikatan itu mem-punyai
pengaruh yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Ikatan itu bukan muncul dari
sesuatu yang umum, tetapi berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari
manusia.
Harun
Nasution mengemukakan delapan definisi untuk agama, yaitu:
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan
gaib yang harus dipatuhi.
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang me-nguasai manusia.
3. Mengikatkan diri kepada suatu bentuk hidup yang me-ngandung pengakuan
pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang
mempengaruhi perbu-atan-perbuatan manusia.
4. Kepercayaan kepada sesuatu ikatan gaib yang menim-bulkan cara hidup
tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini berasal
dari suatu kekuatan gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan
perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar
manusia.
8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui
seorang Rasul.
Definisi yang dikemukakan Harun Nasution dapat disederhanakan menjadi dua
definisi saja. Dari nomor 1 sampai 7 dapat diketahui bahwa agama berkaitan
dengan keterikatan manusia dengan kekuatan gaib yang lebih ting-gi dari manusia
yang mendorong manusia untuk berbuat baik, bisa yang berkekuatan gaib itu
dewa-dewa, atau roh-roh yang dipercayai mempunyai kekuasaan luar biasa
melebihi dari dirinya, sekalipun pada hakikatnya yang dipercayai itu adalah
benda mati seperti berhala dalam zaman Jahiliah. Adapun definisi nomor 8
terfokus kepada agama wahyu yang diturunkan melalui nabi-nabi. Jika
disimpulkan, definisi-definisi agama itu menunjuk kepada kuatan gaib yang
ditakuti, disegani oleh manusia, baik oleh kekuasaan maupun karena sikap
pemarah dari yang gaib itu.
Dari delapan difinisi di atas dapat diklasifikasikan bahwa terdapat empat
hal penting dalam setiap agama, yaitu :
Pertama, kekuatan
gaib, manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu
sebagai tempat minta tolong. Oleh sebab itu, manusia merasa harus mengadakan
hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. Hubungan baik itu dapat
diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
Kedua keyakinan
manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidup akhirat tergantung pada
adanya hu-bungan baik dengan kekuatan gaib itu. Dengan hilangnya hubungan
baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan, yang dicari akan hilang pula.
Ketiga respon
yang bersifat emosionil dari manusia. Res-pon itu bisa berupa rasa takut
seperti yang terdapat dalam agama-agama primitif, atau perasaan cinta seperti
yang terdapat dalam agama-agama monoteisme. Selanjutnya respon mengambil
bentuk penyembahan yang terdapat di dalam agama primitif, atau pemujkaan yang
terdapat dalam agama menoteisme. Lebih lanjut lagi respon itu mengambil
bentuk cara hidup tertentu bagi masyarakat yang bersangkutan.
Keempat paham
adanya yang kudus (sacred) dan suci dalam bentuk kekuatan gaib, dalam
bentuk kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama itu dan dalam bentuk
tempat-tempat tertentu.[36]
Setelah diketahui pengertian masing-masing dari agama dan filsafat, perlu
diketahui apa sebenarnya pengertian filsafat agama. Harun Nasution
mengemukakan bahwa filsafat agama adalah berfikir tentang dasar-dasar agama
menurut logika yang bebas. Pemikiran ini terbagi menjadi dua bentuk, yaitu:
Pertama membahas
dasar-dasar agama secara analitis dan kritis tanpa terikat kepada ajaran
agama, dan tanpa tujuan untuk menyatakan kebenaran suatu agama. Kedua membahas
dasar-dasar agama secara analitis dan kritis dengan maksud untuk menyatakan
kebenaran suatu ajaran agama atau sekurang-kurangnya untuk menjelaskan bahwa
apa yang diajarkan agama tidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan
logika.[37] Dasar-dasar agama yang dibahas
antara lain pengiriman rasul, ketuhanan, roh manusia, keabadian hidup,
hubungan manusia dengan Tuhan, soal kejahatan, dan hidup sesudah mati dan
lain-lain. Oleh sebab itu pengertian filsafat agama adalah berfikir secara
kritis dan analitis menurut aturan logika tentang agama secara mendalam
sampai kepada setiap dasar-dasar agama itu..
C. Agama Sebagai Objek Filsafat
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa agama dan filsafat adalah dua
pokok persoalan yang berbeda. Agama banyak berbicara tentang hubungan antara
manusia dengan Yang Maha Kuasa. Dalam agama samawi (Yahudi, Nas-rani dan
Islam), Yang Kuasa itu disebut Tuhan atau Allah, sedangkan dalam agama ardi
Yang Kuasa itu mempunyai sebutan yang bermacam-macam, antara lain Brahma,
Wisnu dan Siwa dalam agama Hindu, Budha Gautama dalam agama Budha, dan sebagainya.
Semua itu merupa-kan bagian dari ajaran agama dan setiap ajaran agama
itulah yang menjadi objek pembahasan filsafat agama. Filsafat seperti
yang dikemukakan bertujuan menemukan kebenaran. Jika kebenaran yang
sebenarnya itu mem-punyai ciri sistematis, jadilah ia kebenaran filsafat.
Kata objek dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan sasaran atau
sesuatu yang menjadi pelengkap dari suatu aktivitas. Apa saja yang menjadi
sasaran dalam suatu aktivitas berarti hal itu menjadi objek dari aktivitas ter-sebut.
Jika seorang peneliti melakukan penelitian tentang pola hidup
masyarakat nelayan di A maka semua pola hidup dan tingkah laku
masyarakat nelayan tersebut adalah menjadi objek penelitian. Dengan
kata lain setiap nelayan yang ada di lokasi penelitian yang dilakukan itu
jelas menjadi objek dari penelitian tersebut.
Isi filsafat itu ditentukan oleh objek apa yang dipikir-kan. Karena
filsafat mempunyai pengertian yang berbeda sesuai dengan pandangan orang yang
meninjaunya, akan besar kemungkinan objek dan lapangan pembicaraan fil-safat
itu akan berbeda pula. Objek yang dipikirkan filosof adalah segala yang ada
dan yang mungkin ada, baik ada dalam kenyataan, maupun yang ada dalam fikiran
dan bisa pula yang ada itu dalam kemungkinan.[38]
Aristoteles mengemukakan bahwa objek filsafat ada-lah fisika, metafisika,
etika, politik, biologi, bahasa.[39] Al-Kindi mengemukakan bahwa objek
filsafat itu adalah fisika, matematika dan ilmu ketuhanan.[40] Menurut al-Farabi, objek filsafat
adalah semua yang maujud.[41] Selain yang dikemukakan oleh para
filosof di atas, menambahkan bahwa kepercayaan itu termasuk objek pembicaraan
filsafat.[42]
Semua sasaran pembahasan di atas merupakan mate-ri pembahasan filsafat.
Agama adalah salah satu materi yang menjadi sasaran pembahasan filsafat.
Dengan demi-kian, agama menjadi objek materia filsafat. Ilmu pengeta-huan
juga mempunyai objek materia yaitu materi yang empiris, tetapi objek materia
filsafat adalah bagian yang abstraknya. Dalam agama terdapat dua aspek yang
berbeda yaitu aspek pisik dan aspek metefisik. Aspek metafisik adalah hal-hal
yang berkaitan dengan yang gaib, seperti Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan hubungan
manusia dengan-Nya, sedangkan aspek pisik adalah manusia sebagai pribadi,
maupun sebagai anggota masyarakat.
Kedua aspek ini (pisik dan metafisik) menjadi objek materia filsafat.
Namun demikian objek filsafat agama banyak ditujukan kepada aspek metafisik
daripada aspek pisik. Aspek pisik itu sebenarnya sudah menjadi pem-bahasan
ilmu seperti ilmu sosiologi, psikologi, ilmu biologi dan sebagainya. Ilmu
dalam hal ini sudah memi-sahkan diri dari filsafat.
Dengan demikian, agama ternyata termasuk objek materia filsafat yang
tidak dapat diteliti oleh sain. Objek materia filsafat jelas lebih luas dari
objek materi sain.[43] Perbedaan itu sebenarnya
disebabkan oleh sifat penyelidik-an. Penyelidikan filsafat yang dimaksud di
sini adalah penyelidikan yang mendalam, atau keingintahuan filsafat adalah
bagian yang terdalam. Yang menjadi penyelidikan filsafat agama adalah aspek
yang terdalam dari agama itu sendiri.
Selain objek materia itu terdapat pula objek forma filsafat yaitu cara
pandang yang menyeluruh, radikal dan objektif tentang yang ada untuk
mengetahui hakikatnya. Dengan demikian, agama sebagai objek forma
filsafat adalah cara pandang yang radikal tentang agama dan ber-bagai
persoalan yang terdapat dalam agama itu. Dengan kata lain objek forma
filsafat adalah pembahasan yang mendalam dan mendasar dari setiap hal yang
menjadi ajaran dari seluruh agama di dunia ini. Seperti diung-kapkan di atas
bahwa pemabahasan terpenting dalam setiap agama adalah ajaran tentang Tuhan.
Pembahasan ini tidak hanya melihat argumentasi yang memperkuat keya-kinan
tentang Tuhan, tetapi juga argumen yang memban-tah, melemahkan bahkan
menolak wujud Tuhan itu. Hal inilah yang akan dibahas dalam filsafat agama.
Karena begitu mendalamnya pembahasan tentang Tuhan terdapat dua
kemungkinan yang akan terjadi. Dengan mempelajari agama bisa
seseorang berubah keya-kinan. Ada orang yang membahas persoalan
kepercayaan dalam agama itu menambah keyakinannya terhadap Tuhan. Ada orang
yang membahas persoalan kepercayaan tentang Tuhan, tetapi karena ia tidak
mendapatkan kepuas-an dalam penemuannya sehingga orang itu berpaling dari
keyakinannya semula. Jika seorang pada mulanya percaya kepada Tuhan, tetapi
setelah membahas eksistensi Tuhan ia bisa menjadi tidak percaya kepada Tuhan.
Nietzsche, seorang keturunan yang taat beragama adalah salah satu contoh dari
persoalan ini.[44] Sebaliknya, seorang yang ateis,
yang kemungkinan dalam hidupnya mengalami kekosong-an dan kegersangan jiwa
setelah berfikir tentang penga-laman orang yang beragama bisa pula menjadi
penganut agama yang kuat.
Tidaklah terlalu asing orang mengatakan bahwa pembahasan filsafat agama
tidak menambah keyakinan atau tidak meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Ini bisa
berarti bahwa pembahasan agama secara filosofis tidak perlu dan usaha itu
adalah sia-sia. Tetapi perlu diingat bahwa pembahasan filsafat agama
bertujuan untuk menggali kebenaran ajaran-ajaran agama tertentu atau paling
tidak untuk mengemukakan bahwa hal-hal yang diajarkan dalam agama tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip logika.[45]
Sebenarnya objek filsafat agama tersebut tidak hanya persoalan-persoalan
ketuhanan semata, tetapi juga sampai kepada persoalan-persoalan eskatologis.
Persoalan eskato-logis pada umumnya berbicara tentang hari kiamat dan hal-hal
yang akan dialami manusia pada waktu itu, seperti persoalan keadilan Tuhan,
penerimaan pahala dan siksa. Pentingnya persoalan eskatologis sebagai objek
pemba-hasan filsafat agama karena eskatologislah yang mendo-rong
orang bersemangat orang untuk menjalankan ajaran agamanya. Tanpa ada tanggung
jawab terhadap amal perbuatannya keberadaan agama menjadi kurang menarik.
Hidup sesudah mati inilah yang membuat pemeluknya menjadi tertarik kepada
kepada agama.
Filsafat agama sebenarnya bukanlah langkah untuk menyelesaikan persoalan
agama secara tuntas. Pemba-hasan filsafat agama hanya bertujuan untuk
mengungkap-kan argumen-argumen yang mereka kemukakan dan memberikan penilaian
terhadap argumen tersebut dari segi
logisnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa objek filsafat
bukanlah hal-hal yang empiris, bukan seperti penyelidikan sain yang
keingingtahuannya hanya pada batas yang dapat diteliti secara empiris. Dalam
istilah lain, batas penelitian dalam ilmu pengetahuan adalah pada daerah yang
dapat diriset, sedangkan objek filsafat adalah hal-hal yang dapat dipikirkan
secara logis. Sain meneliti dengan riset, sedang-kan filsafat meneliti dangan
memikirkannya.[46]
Selain itu filsafat merupakan analisa logis dari segi bahasa serta
penjelasan tentang arti kata dan konsep. Di sini yang dilihat adalah maksud
dari suatu istilah, seperti agama itu maksudnya apa. Sudah logiskah sesuatu
yang dinyatakan dalam agama itu. Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan
oleh para ahli filsafat, yang dimaksud dengan filsafat di sini adalah
berfikir menurut tata-tertib logika dengan bebas (tidak terikat pada suatu
tradisi, dogma, serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya se-hingga sampai
kepada dasar-dasar persoalan. Yang utama dalam tulisan ini adalah analisis
kritis dan logis terhadap setiap persoalan agama. Sehubungan dengan itu, apa
sebenarnya yang menjadi objek pembahasan filsafat, apakah segala sesuatu
tanpa kecuali dapat menjadi objek pembicaraan filsafat.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa objek
pembicaraan filsafat itu banyak sekali, yaitu segala yang ada. Agama
ternyata merupakan salah satu objek pembicaraan filsafat.
D. Perbadingan Agama dan Filsafat
Dari uraian di atas diketahui bahwa antara agama dan filsafat itu
terdapat perbedaan. Menurut Prof. Dr. H. H. Rasyidi, perbedaan antara
filsafat dan agama bukan terletak pada bidangnya, tetapi terletak pada cara
menye-lidiki bidang itu sendiri.[47] Filsafat adalah berfikir,
sedang-kan agama adalah mengabdikan diri, agama banyak hu-bungan dengan hati,
sedangkan filsafat banyak hubungan dengan pemikiran. Williem Temple, seperti
yang dikutip Rasyidi, mengatakan bahwa filsafat menuntut pengetahuan untuk
memahami, sedangkan agama menuntut pengeta-huan untuk beribadah atau
mengabdi.[48] Pokok agama bukan pengetahuan
tentang Tuhan, tetapi yang penting adalah hubungan manusia dengan Tuhan. [49]
Lewis mengidentikkan agama dengan enjoyment dan filsafat dengan contemplation.
Kedua istilah ini dapat dipahami dengan contoh: Seorang laki-laki mencintai
perempuan, rasa cinta itu dinamai dengan enjoyment, sedangkan
pemikiran tentang rasa cinta itu disebut contemplation.[50]
Di sisi lain agama mulai dari keyakinan, sedangkan filsafat mulai
dari mempertanyakan sesuatu. Mahmud Subhi mengatakan bahwa agama mulai dari
keyakinan yang kemudian dilanjutkan dengan mencari argumentasi untuk
memperkuat keyakinan itu, (ya`taqidu summa yastadillu), sedangkan
filsafat berawal dari mencari-cari argumen dan bukti-bukti yang kuat
dan kemudian timbul-lah keyakinannya (yastadillu summa ya`taqidu).[51] Dalam pendapat Mahmud
Subhi , agama di sini kelihatan identik dengan kalam, yaitu berawal
dari keyakinan, bukan ber-awal dari argumen.
Perbedaan lain antara agama dan filsafat adalah bah-wa agama banyak
hubungannya dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungannya dengan pikiran
yang dingin dan tenang. Agama dapat diidentikkan dengan air yang terjun dari
bendungan dengan gemuruhnya, sedangkan filsafat diumpamakan dengan air telaga
yang jernih, tenang dan kelihatan dasarnya.[52] Seorang penganut agama biasa-nya
selalu mempertahankan agama habis-habisan karena dia sudah mengikatkan diri
kepada agamanya itu. Sebalik-nya seorang ahli filsafat sering bersifat lunak
dan sanggup meninggalkan pendiriannya jika ternyata pendapatnya keliru.[53] Dalam diri seorang ahli filsafat
terdapat maksud meneliti argumen-argumen yang mendukung pendapatnya dan
kelemahan argumen tersebut walaupun untuk argumen dia sendiri, sedangkan
dalam diri penganut suatu agama tidak terdapat keinginan seperti itu.
Di sisi lain Harun Nasution membandingkan pemba-hasan filsafat agama
dengan pembahasan teologi, karena setiap persoalan tersebut juga menjadi
pembahasan tersen-diri dalam teologi. Jika dalam filsafat agama pembahasan
ditujukan kepada dasar setiap agama, pembahasan teologi ditujukan pada
dasar-dasar agama tertentu.[54] Dengan demikian terdapatlah
teologi Islam, teologi Kristen, teologi Yahudi dan sebagainya.
Pemikiran-pemikiran seperti itu kurang tepat karena pandangan
masing-masing penganut agama dan filosof bersifat sepihak. Pendirian yang
lebih baik dan lebih berfaedah adalah pendirian seorang penganut suatu agama
yang bersedia mendengarkan uraian tentang paham atau agama lain dan meminta bukti
dari paham atau agamanya itu.
Seseorang memerlukan kepiawaian dalam menge-mukakan argumen, memahami
teknik analisa serta menge-tahui sejumlah bahan pengetahuan untuk memikirkan
se-gala sesuatu secara logis, termasuk setiap problem kehi-dupan yang ada
hubungannya dengan hal itu.[55] Melihat sesuatu itu memerlukan
pemikiran luas, dan jauh dari emosi. Tetapi harus disadari bahwa agama pada
satu sisi memang ditandai dengan unsur-unsur yang bersifat memi-hak kepada
keyakinannya sendiri. Tanpa ada sifat memi-hak, agama kadang-kadang kurang
terasa maknanya.
Dengan demikian, seorang ahli
agama bisa menyeli-diki ajaran agamanya sendiri, demikian juga agama lain,
tetapi dia harus menyadari posisinya pada waktu meneliti agama untuk
menghindari banyaknya unsur subjektif yang sering muncul dalam pekiran ahli
agama itu.
[1]Kegiatan berfikir radikal
dan mendalam telah dimulai oleh Thales. Filosof alam pertama ini telah
berfikir tentang segala sesuatu secara mendalam dengan melihat asal kejadian
sesuatu. Kegiatan ini diiringi oleh filosof lain sampai kepada
filosof di zaman moderen, yang menggunakan prinsip sama yaitu pembahasan
radikal..
[2]Ahmad Tafsir, Filsafat
Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, Bandung : Rosdakarya,
1994, hlm. 8.
[13]Gerard Beekman, Filsafat
para Foloosf Berfilsafat, diterjemahkan oleh R. A. Rifai dari
Filosofie, Filosofen, dan Filosoferen, Jakarta : Erlangga, 1984, hlm.
14.
[16]Jujun S Suriasumantri, Filsafat
Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Sinar Harapan, 1995, hlm. 25.
[21]Kattsoff, Louis O, Pengantar
Filsafat, terjemahan dari Element of Philosophy, oleh Soejono
Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992, hlm. 67.
[24]Harun Nasution, Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Universitas Indonesia
Press, 1979, cet. ke-1, hlm. 9.
[27]Sidi Gazalba, Ilmu Filsafat
dan Islam tentang Manusia dan Agama, Jakarta : Bulan Bintang, 1978, hlm.
100.
[34]Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi
Pengajaran Agama Islam, terjemahan dari Turuq al-Ta`lim al-Tarbiyah
al-Islamiyyah, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam,
1984-1985, hlm. 8.
[44] Ayah Nietzsche adalah
seorang pendeta di Lutheran dan kakeknya adalah seorang guru besar dalam
bidang teologi. Setelah menganalisa kepercayaan agama Nasrani yang dianut
orang tuanya ia menjadi tidak percaya kepada Tuhan. Harry Hammersma, Tokoh-Tokoh
Filsafat Barat Moderen, Jakarta : Gramedia, 1990, hlm. 79 dan 81.
[46]Contoh dari perbedaan ojek
filsafat dan objek sain antara lain adalah hujan. Apa itu hujan ? Mata
melihat hujan, demikian penjelasan Ahmad Tafsir, adalah air yang turun dari
langit. Kenapa air turun dari langit ? Kata ilmuan hujan itu adalah air yang
menguap berkumpul di atas, lalu turun, itulah hujan. Mengapa air laut, air
danau, air sumur dan sebagainya menguap ? Menurut sain itu disebabkan
pemanasan. Kenapa di Indonesia banyak hujan, di Arab Saudi tidak ? Karena di
Indonesia banyak gunung, sedangkan di Arab Saudi sedikit gunung. Semua itu
adalah jawaban sain. Selanjutnya pertanyaan muncul, kenapa di Indonesia banyak
gunung dan Arab Saudi sedikit gunung ? Sain tidak dapat menjawab lagi.
Filosof mencoba menjawab, adalah karena kebetulan. Apa itu kebetulan ?
Kebetulan adalah salah satu bentuk hukum alam. Apa itu hukum alam ? Hukum
alam adalah hukum kehendak alam menurut sebagian orang dan kehendak Tuhan
menurut sebagian lagi. Dari kata kebetulan sampai kepada kehendak Tuhan
adalah jawaban filsafat, karena jawaban tersebut hanya berdasarkan pikiran
logis tanpa didukung oleh fakta empiris. Ibid. Perlu diketahui bahwa jawaban
filsafat itu tidak terfokus kepada satu bidang pembahasan, melainkan tertuju
kepada berbagai jawaban yang pada pokoknya mencari dasar segala
sesuatu.
[48]Dilihat
dari segi pengabdian itu, paham materialisme dialektik diangap sebagai suatu
agama juga karena para pengikutnya merasa berkewajiban mengabdikan diri untuk
menyebarkan pahamnya itu. Pengabdian para pengikut
paham ini bukan untuk Tuhan, tetapi untuk proses sejarah paham itu sendiri. Ibid.,
hlm. 3-4.
[51]Ahmad Mahmud Subhi, Fi
`Ilm al-Kalam, Dirasat Falsafiyyah. Dar al-Kutub al-Jami`iyyah, 1969,
hlm. 4.
|
Langganan:
Postingan (Atom)